Listrik Kerap Mati di Bengkalis, PLN Sebut Ular dan Monyet Jadi Biang Kerok

Listrik Kerap Mati di Bengkalis, PLN Sebut Ular dan Monyet Jadi Biang Kerok
Andra Team leader K3L PLN Bengkalis. (Foto-Rudi Chan)

iniriu.com, BENGKALIS – Meski memiliki cadangan daya listrik yang tergolong aman, masyarakat di Pulau Bengkalis masih harus menghadapi pemadaman listrik yang terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini memicu keluhan warga karena dinilai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Bengkalis yang berada di bawah koordinasi PLN Cabang Dumai bertugas mengelola operasional teknis hingga pelayanan pelanggan. Namun dalam praktiknya, kestabilan pasokan listrik di wilayah tersebut belum sepenuhnya terjaga.

Data yang dihimpun menyebutkan, terdapat 40 unit mesin pembangkit dari empat perusahaan—PT PLN, PT JBM, PT BGP, dan PT Hutan Alam—yang menyuplai listrik ke Pulau Bengkalis dengan total daya mencapai 29 Megawatt (MW).

Sementara kebutuhan listrik masyarakat, termasuk sektor tambak udang, berada di angka 23 MW. Dengan demikian, terdapat kelebihan daya sekitar 6 MW.
Ironisnya, kondisi surplus tersebut belum mampu menjamin listrik menyala tanpa gangguan selama 24 jam. Warga mengaku kerap mengalami pemadaman mendadak, bahkan saat kondisi cuaca normal.

“Sering kali listrik mati tiba-tiba tanpa hujan atau angin. Ini sudah berulang,” ungkap Hendri, warga Bengkalis.

Menanggapi hal itu, Team Leader K3L ULP PLN Bengkalis, Andra, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah melakukan pemadaman secara sengaja. Ia menyebut ada dua faktor utama yang menyebabkan listrik padam.

Pertama, pemeliharaan mesin pembangkit atau overhaul yang biasanya sudah dijadwalkan dan diumumkan kepada masyarakat melalui berbagai kanal informasi resmi. Kedua, gangguan dari binatang liar yang sulit diprediksi.

Menurutnya, hewan seperti monyet, lutung, dan ular kerap berinteraksi dengan jaringan listrik, baik dengan memanjat tiang maupun melintas di kabel. Kondisi ini dapat memicu korsleting yang berujung pada pemadaman mendadak.

“Sekitar 80 persen gangguan listrik di Bengkalis disebabkan oleh binatang liar,” jelas Andra.

Ia juga membantah anggapan bahwa pemadaman dilakukan untuk memprioritaskan pasokan listrik ke tambak udang. Justru, kata dia, terdapat kesepakatan bahwa sektor tambak menjadi yang pertama diputus saat terjadi gangguan.

Di sisi lain, pemadaman listrik turut berdampak pada pendapatan PLN. Pasalnya, tagihan pelanggan dihitung berdasarkan jumlah pemakaian energi. Ketika listrik padam, konsumsi otomatis menurun.

“Kalau listrik mati, kami juga dirugikan karena pemakaian berkurang,” tambahnya.

Untuk mengantisipasi gangguan, PLN Bengkalis telah melakukan berbagai langkah, seperti memasang seng berduri pada tiang listrik, pelindung kabel (protection sleeve), serta perangkat penghalau hewan. Namun upaya tersebut belum sepenuhnya efektif, mengingat sebagian jaringan listrik berada di dekat kawasan hutan dan perkebunan yang menjadi habitat satwa liar.

PLN memastikan akan terus melakukan evaluasi dan inovasi guna meningkatkan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat Bengkalis.**

#Pemerintahan

Index

Berita Lainnya

Index