Oleh : Denni hidayat
(Warga Riau bermastautin di Jakarta)
Latar Belakang
SEIRING munculnya matahari di awal 2026, Provinsi Riau berdiri di persimpangan jalan dan terasa masih gamang dengan derita tahun 2025. Provinsi yang menyandang predikat sebagai "lumbung energi" nasional dengan kekayaan minyak dan sawit yang melimpah, nyatanya masih harus meratapi nasibnya yang kontradiktif.
Tahun ini menjadi saksi betapa Riau masih terbelit dalam pusaran masalah kronis yang menguji daya tahan masyarakatnya, Kondisi fiskal yang ringkih berdampak langsung pada nadi kehidupan masyarakat, jalan-jalan berlubang menghambat distribusi logistik dan membuat ekonomi rakyat keci tidak berkembang, Jembatan yang rusak dan putus menghambat transportasi masyarakat.
Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Riau cenderung stagnan ditengah naiknya jumlah angkatan kerja. Angka statistik mungkin menunjukkan pertumbuhan, namun di lapangan, daya beli masyarakat melambat.
Kondisi ini seperti tercermin dalam lagu Lancang Kuning berlayar malam yang sedang di terpa badai. badai yang menerpa bukanlah sekadar fenomena alam (faktor eksternal turunnya DBH), melainkan akumulasi dari "kerusakan mesin" (faktor internal lemahnya mesin birokrasi dan masalah hukum kepala daerah), Di saat layar terkoyak oleh persoalan hukum dan lambung kapal bocor akibat defisit anggaran, Riau tidak hanya butuh seorang nakhoda, ia butuh seorang nakhoda handal yang memiliki integritas seteguh karang dan keberanian seluas lautan, tapi siapakah dia dan bagaimana melihat tindakannya, yang menunjukkan kriteria integritas dan keberanian itu terpenuhi, paling tidak ada indikasi yang mengarah kesana ?
Menanti nakhoda handal
Saat ini Bumi lancang kuning hanya di pimpin oleh seorang Plt, tapi melihat rentetan kebijakan Plt Gubri yang out-of-the-box di akhir tahun 2025 seperti membentuk tim optimalisasi pendapatan, kemudian keberanian untuk memberhentikan Dirut salah satu BUMD, serta pemberian hibah lahan UNRI oleh Pemrov Riau yang sudah puluhan tahun mandek dan menyebabkan UNRI tidak bisa membuat perencanaan strategis menuju Universitas Riset dalam membentuk SDM Riau unggul, maka di awal tahun 2026 ini muncul secercah harapan di hati masyarakat Riau, Masyarakat kini mulai melihat Plt Gubri sebagai Nakhoda yang berani mengambil risiko untuk kepentingan publik dan diharapkan akan berlanjut ke tahun-tahun depan, tidak bersifat "hangat-hangat tahi ayam" atau pencitraan sesaat, melainkan awal dari sistem tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan.
Harapan masyarakat Riau saat ini sederhana saja, pertama keberlanjutan Perbaikan sistem tata kelola pelayanan publik seperti peningkatan kualitas pendidikan dan peningkatan layanan kesehatan serta kemudahan sistem perizinan, Kedua pemulihan Infrastruktur jalan dan jembatan sebagai urat nadi perekonomian dan Ketiga stabilitas ekonomi dimana kekayaan alam Riau benar-benar terkonversi menjadi kesejahteraan yang merata yang banyak menyerap tenaga kerja, bukan hanya menumpuk di segelintir korporasi atau pengusaha.
Menutup tahun ini, Riau memang belum sepenuhnya sembuh dari luka. Namun, dengan keberanian melakukan evaluasi dan perombakan sistemik mesin birokrasi yang telah dimulai oleh sang Plt, Bumi Lancang Kuning punya alasan untuk tetap tegak berdiri. Kepemimpinan yang berani mendobrak status quo adalah kado akhir tahun yang setidaknya mampu menghapus sedikit rasa skeptis warga terhadap masa depan Provinsinya, Semoga di tahun-tahun mendatang, Riau tidak lagi hanya kaya di atas kertas, tapi juga jaya dalam realitas, Selamat bertugas pak Plt.**